Selamat Datang di Blog Ikatan Keluarga Besar pesantren Modern Kulni

06 Juni 2009

Dzikir, Fikir & Ikhtiar sebagai Pilar Kemandirian Bangsa

Sumber: www.ucusofyan.blogspot.com


“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Qs: Al – Jumuah 10)

Tiga milyar lebih jumlah penduduk bumi ini dengan berbagai temperamental dan kepercayaannya masing – masing, tentunya mengharapkan hidup bahagia di dunia dan sebagian juga mengharapkan lebih, bahagia di kehidupan setelah mati (bagi mereka yang mempercayainya). Setiap harinya terlihat ribuan manusia dari berbagai kasta bertebaran mencari rizki dengan berbagai konsep dan gaya berfikir tentang pandangan terhadap harta kekayaan. Tentunya pula mereka mengharapkan kebaikan dari harta yang telah didapatkannya.

Dalam kehidupan islam, konsep tentang harta adalah berfikiran agar bagaimana harta tersebut sebagai penolong baginya dan bukan menjadi abdi harta.. dari pemikiran ini timbul suatu konsep bahwa harta hanyalah virtual goods namun islam pun memberikan perintah bahwa harta dianjurkan dimiliki. Sehingga jika ditarik benang merahnya, bukan seberapa besar harta dimiliki oleh seorang muslim, melainkan bagaimana orang muslim itu memandang harta kekayaan yang dimilikinya.
Masa depan Indonesia yang diprediksi oleh para pakar akan makmur tahun 2030 kesana, tentunya kita berfikir mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apakah nalar intelektual Indonesia tidak dapat dikembangkan untuk mengubah paradigma berfikir? Disinilah peranan penting spiritual yang harus dipupuk. Seperti di Negara kapitalis, konsep harta adalah tumpuk dan tidak ingat akan orang lain yang terpenting semua ambisi yang ada dapat terpenuhi (walau pada hakikatnya, nafsu tersebut tiada batasnya) sehingga menyebabkan faham kapitalsime lambat laun memperlihatkan wujud aslinya, kebusukan dan kenistaan terhadap sosio-ekonomi.
Jika prediksi pakar tentang kemakmuran itu benar, sungguh generasi sekarang adalah pendosa besar, menyebabkan janin yang terlahir ke dunia ini memandang dunia bukan tempat hidup yang layak karena penuh dusta dan amarah. Kita tidak mungkinmenyalahkan konsep ketuhanan yang katanya tuhan adalah maha penolong. Namun disinilah kita sudah harus meng-evolusi pemikiran, penolong bukan berarti ketika seorang manusia merasakan lapar ia akan mendapatkan begitu saja mendapatkan makanan Cuma – Cuma dari langit. Namun ia harus berusaha terlebih dahulu karena penolong buka berarti menciptakan ssuatu mukzizat, tetapi ialah sebagai penentu dari hasil usaha manusia.
Dzikir, Penghubung Manusia dengan Allah SWT
Tentunya kita selalu bertanya – Tanya tentang mengapa Indonesia terpuruk? Menyadari tujuan awal penciptaan manusia adalah untuk beribadah, maka manusia harus sadar diri akan tujuan awal mengapa ia diciptakan. Bukankah manusia disiptakan untuk hanya menyembah Allah dan tiada penyekutuan terhadap-Nya?. Beribadah bukan hanya shalat dan mengaji saja, beribadah perlu dilakukan dalam berbagai aspek kehidupn, berdagang bermaksud untuk beribadah kepada Allah dengan Horizontal Connection With other Peoples. Kita berdagang dengan maksud menolong manusia untuk mendapatkan kebutuhan yang diinginkannya.
Apapun Profesi yang dijalani masing – masingmanusia harus diorientasikan Ibadah. Penyanyi dapat beribadah dengan lagunya yang berdakwah kepada manusia lain menuju ke hadirat tuhan. Ibadah yang di kelompokan kepada dua macam (vertical dan horizontal) tentunya harus selalu dzikir (ingat) bahwa Allah tahu apa yang dirasakan dan di fikirkan oleh manusia sekalipun terdetik dalam hati yang paling dalam. Idealnya seorang islam adalah semua perkataannya adalah ibadah, semua pekerjaannya bermanfaat, ngerumpinya merumpi ala intelek alias membahas perbaikan, baik sector diri sendiri terlebih pembahasan orang lain. Sehingga dalam kehidupannya, setiap detik adalah dzikir (ingat) kepada Allah, dzikir bukan hanya mengucapkan kalimah thayibah saja, dzikir adalah landasan fundamental kita yang selalu mengkaitkan segala bentuk perbuatan kita dengan Allah. Ketika akan melakukan sesuatu, kita dzikir bahwa kita tidak sendiri, kita bersama Allah yang selalu melihat dan memerintahkan dua malaikatnya mencatat amal perbuatan kita untuk dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Fikir, Mediator Gagas Terobosan
Pasca dzikir, tentunya kita perlu berfikir. Berfikir akan hal terkecil yang sering kita lupakan hingga yang sangat besar sekalipun Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu menggunakan akal yang telah diberikan untuk dipergunakan demi kemaslahatan umat. Tidak ada manusia yang dilahirkan dalam keadaan berilmu, melainkan ia harus belajar dengan segala kesempatan yang diberikan Allah, 24 jam dalam sehari kepada keseluruhan umat harus benar – benar difikirkan dengan baik sisi manajerialnya.
Adalah Habibie (tokoh nasional Indonesia) beliau pun sama diberikan waktu 24 jam sehari dan hitungan yang sama lainnya seperti Minggu dalam satu bulan, bulan dalam satu tahun dsb, namun karena beliau berfikir manajemen waktu dengan baik hingga ia dapat merasakan hasil yang belum pernah ia duga sebelumnya. Itulah bukti nyata dari buah fikiran. Analogikan Otak yang diberikan adalah seorang raksasa tertidur, ia harus dibangunkan, di stimulus dengan baik dan mengguncang dunia. Ada suatu hal ironis mengenai Indonesia, Amerika berani membayar otak – otak bangsa Indonesia, dalam pandangannya otak Indonesia otak yang masih original (tidak pernah dipakai sekalipun) apakah hal ini akan terjadi terus menerus hingga akhir Dunia, Indonesia tidak dapat mempergunakan pemberian Allah dengan baik.
Berfikir sejenak untuk perubahan lebih baik daripada beribadah tanpa mengajak manusia menuju jalan Allah. Banyak sekali manusia yang terjebak dalam pemikiran yang individualistis, ia lebih mengutamakan kehidupan akhiratnya dibandingkan dunia saja. Hal itu sebenarnya wajar karena manusia akan kembali kepada tuhannya dan memeprtanggung jawabkan segala apa yang ia perbuat. Namun tanpa disadari, manusia yang hanya memikirkan akhiratnya ia telah terjebak dengan kehidupan individualistis, tidak pernah memikirkan bagaimana Lonte-lonte (PSK-red) setiap malam menjajakan dirinya sebagai mediator pemuas nafsu.tidak pernah memikirkan bagaimana si Udin dikerumuni lalat hijau di Tempat pembuangan akhir Bantar gebang, tidak memikirkan bagaimana islam yang berkemajuan. Buka mengkritisi sufisme, namun kita yang belum terjebak dengan hal pemisahan urusan duniawiyah dan ukhrowiyah sedapat mungkin membuat balance kehhidupan dunia-akhirat agar untuk membangun rumah ibadah tidak perlu lagi membuat kotak amal ataupun minta-minta di bus kota, Islam berkemajuan dapat membangun sarana dan pra sarana secara swadaya dan tanpa menggantungkan kepada selain Allah.
Ikhtiar, Pilar Kemandirian Individu Dan Bangsa
Spekulasi (Berjudi) adalah salah satu dari usaha memperbaiki sector financial. Sayangnya, metode – metode seperti itu terbatas oleh hokum Negara dan agama. Dikarenakan berjudi akan membuat salah satu pihak merugi. Karena kekalahan yang di deritanya. Penulis mencoba membuat suatu perbandingan dengan spekulasinya Allah (judi manusia dengan Spekulasinya Allah berlawanan 100%) jika manusia berjudi ada kalah, namun jika manusia berspekulasi dengan Allah tidak ada kekalahan, yang ada kemenangan terus menerus. Hal ini termaktub dalam Al-quran surat Ash-Shaf ayat 10-11 yang artinya:
• Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (10)
• (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. (11)
Disini Allah mengajak suatu pengundian nasib dengan menyatakan perniagaan yang menyelamatkan dari adzab yang pedih. Jawabannya adalah beriman kepada Allah dan Rasulnya dengan iman yang sebenar – benarnya iman dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Ini semua akan menunjukan dan mengarahkan spekulasi manusia-allah menuju suatu keberhasilan di dunia akhirat. Sehingga benar adanya spekulasi manusia-manusia sangat bersebrangan dengan spekulasi manusia-tuhan.
Kesimpulannya, dzikir fakir ikhtiar memang merupakan elemen untuk menjadi pendukung dan pilar kemandirian Indonesia menyongsong abad-22 yang lebih kompetitif.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan memberikan Argumentasi sebagai Forum Diskusi. bagi pengguna Anonym dimohon untuk menyematkan identitas pada Komentar. terima kasih (Administrator)